Merasa sedih ataupun menangis sama sekali tidak menafikkan kesabaran. Ketika Nabi Ya’qub ‘alaihissalam bersedih karena kehilangan Nabi Yusuf ‘alaihissalam, beliau mengatakan,
“Sesungguhnya keluhan kepada Allah tidak menafikkan kesabaran. Sesungguhnya yang dinafikkan oleh Ya’qub adalah keluhan terhadap makhluk.”
Tafsir As-Sa’di
Demikian juga ketika Rasulullah صلى الله عليه و سلم menangis saat meninggal putranya. Tangisan beliau bukan karena beliau tidak bersabar, melainkan karena sifat rahmat atau sayang yang ada dalam diri beliau.
Orang-orang yang ditimpa musibah dengan wafatnya orang yang dicintainya atau yang semisalnya, maka kesedihannya tersebut karena rahmat atau sayang. Ini terpuji, serta tidak menafikkan kesabaran dan ridho.
Tidak bisa dikatakan sebagai penuntut ilmu jika seseorang tidak memiliki perhatian terhadap kitab para ulama.
Penuntut ilmu sangat butuh mendapatkan manfaat dari buku ulama yang dia baca. Maka, untuk mendapatkannya seseorang perlu untuk berkonsultasi terlebih dahulu kepada ahli ilmu atau penuntut ilmu senior sebelum dia membacanya.
Seperti berkonsultasi buku apa yang seharusnya dibaca yang sesuai dengan level kemampuannya. Kemudian buku mana yang paling bagus ta’liqnya, dst. Sehingga membaca menjadi lebih efektif. Dan manfaatpun dapat dirasakan.
Hendaklah kita berlindung dari keberadaan lingkungan yang membiarkan kita terus berada dalam kesalahan. Dibungkus atas nama dukungan dan pengertian. Dibuat seolah-olah itu bentuk kecintaan. Menjadikan kita buta mata buta hati.
Lantas ketika nasehat di atas kebenaran benar-benar datang, sulit sekali untuk menerimanya. Tak tersisa ruang di hati untuk menerimanya.
Bentuk lingkungan seperti ini biasanya tidak akan bertahan lama. Mudah goyah, mudah tersulut provokasi, rentan akan khianat dan yang lainnya. Hanya lingkungan yang ditegakkan amar ma’ruf nahi mungkarlah yang akan bertahan. Tak hanya di dunia, hubungannya juga berlanjut hingga di akhirat.
Semoga Allah selamatkan kita dari lingkungan yang tidak baik. 🌿
Imam Abu Ishaq al-Harby rahimahullah tidak pernah mengeluh kepada keluarganya. Baginya seorang laki-laki adalah mereka yang rasa sedih dan kesusahannya di simpan sendiri. Bahkan ketika mata beliau sebelah buta, beliau tidak memberitahukan siapapun. ______
Pelajaran penting bagi kita sebagai wanita adalah bagaimana berusaha menghargai, memuliakan dan lebih pengertian dengan sosok laki-laki dari orang-orang terdekat kita. Entah itu Ayah, Suami, Kakek, Saudara ataupun Paman.
Taubat tidak boleh ditunda. Wajib untuk langsung bertaubat. Biasanya, jika seseorang bertaubat dari suatu dosa, maka dia menganggap tidak perlu lagi bertaubat. Padahal masih ada taubat yang tersisa karena dia menunda taubatnya. Maka hendaklah bertaubat dari dosa-dosa yang disadari dan yang tidak disadari. Sebab dosa dan kesalahan-kesalahan yang tidak disadari hamba justru lebih banyak dari yang disadarinya. Karena dia tidak mengetahuinya, bukan berarti dia terbebas dari hukuman, kalau memang sebenarnya memungkinkan baginya untuk mengetahuinya. Dengan begitu dia telah durhaka karena tidak ingin mengetahui dan tidak beramal, sehingga kedurhakaannya semakin berlipat.
(Faedah dari buku terjemahan Madarijus Salikin Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah rahimahullah)
Engkau mengingatkan dalam kebaikan. Mereka menasehati dalam kekeliruan. Sungguh bukan karena saling merasa lebih baik dari yang lainnya. Tapi karena ada rasa saling menginginkan kebaikan satu sama lain.
Jika sama-sama tulus, nasehat di atas kebenaran sama-sama akan diterima dengan hati lapang. Jika sama-sama berprasangka baik, nasehat dengan cara apapun akan tetap diterima karena yang diinginkan adalah kebenaran.
Engkau berpikir, jika engkau enggan menerima nasehat karena datangnya nasehat tidak seperti yang engkau inginkan, engkau bisa pastikan bahwa engkau rugi. Engkau harus berusaha melapangkan dada, melihat nasehat seadil mungkin. Menimbangnya seobjektif mungkin. Karena engkau yakin, harga dirimu takkan jatuh hanya karena menerima nasehat yang datang dengan cara memojokkanmu atau menjatuhkan kehormatanmu.
“Engkau dipojokkan adalah pembahasan lain. Tidak boleh dicampurkan dengan isi nasehat yang memang benar adanya.” Tuturmu menguatkan diri.
“Maafkan.. semoga Allah memberikannya taufik. Sebutkan dalam doamu nama-nama yang mungkin engkau merasa tersakiti oleh sikapnya. Dan meminta ampun yang mungkin engkau juga melakukan hal serupa kepada orang lain tanpa engkau sadari, meski engkau sudah berusaha untuk berhati-hati.”. Engkau selalu mendorong dirimu untuk itu.
Engkau hanya tak ingin menjadi rendah karena mentalitas yang rendah. Engkau tak sudi dengan mental yang seperti itu.
Engkau yakin hal-hal tidak mengenakkan akan membuatmu tumbuh. Seperti halnya bunga yang berawal dari biji, tumbuh dalam kegelapan bumi, terkubur dengan tanah yang kotor, saat bertunas harus siap dengan terik jika siang dan dingin jika malam. Namun, pada akhirnya ia akan tumbuh, akarnya akan merambat kuat, batangnya akan kokoh dan dia akan mekar pada waktunya.
Zona nyaman memang menyenangkan. Namun sama sekali tidak akan membuatmu tumbuh.
Terbesit pertanyaan di kepalamu, jika saja musik islami itu dibenarkan oleh hati, kenapa tak pernah engkau lihat orang tersungkur sujud meneteskan air mata ketika pada bait tentang taubat. Kenapa tak ada hati yang tergerak untuk langsung berwudhu untuk sholat lalu membaca al-Qur’an ketika terlintas lirik tentang indahnya Qur’an.
“Aku yang tidak tahu atau karena memang tidak ada yang seperti ini?” Engkau membatin dengan heran.
Engkau hanya melihat orang larut dalam harmoni musik yang terkomposisi syahdu. Engkau hanya menyaksikan orang terpesona dengan suara merdu penyanyi dan nada yang mudah diikuti. Bahkan engkau sendiri pernah berada di posisi itu lalu engkau mendapati sebuah keganjilan. Allah memberikan hidayah-Nya kepadamu. Keganjilan yang akhirnya membuatmu bisa membedakan bahwa musik benar-benar mengeraskan hati. Tak sedikitpun bisa menambahkan keimanan.
Sekalipun orang bersusah payah membenarkan dan menghalalkan musik. Tapi hatimu tak dapat berkompromi dengan akibat yang telah engkau rasakan sendiri.
Katamu, “Aku mengimani bahwa cinta musik dan cinta al-Qur’an tidak bisa bergabung dalam satu hati. Hanya salah satu diantara keduanya. Besok lusa mungkin mereka bisa memahaminya. Semoga saja tidak benar-benar terlambat.”
Allah Maha Mensyukuri amalan seorang hamba, sekalipun amalannya sedikit. Dengan keikhlasan, amal tersebut menjadi sangat besar disisi Allah.
إِنَّهُ غَفورٌ شَكورٌ
Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri. (Fathir : 30)*
(*) Allah mensyukuri hamba-Nya, memberi pahala terhadap amal-amal hamba-Nya, memaafkan kesalahannya, menambah nikmat-Nya dan sebagainya.
- Via Aplikasi Ayah
Dengan banyaknya balasan atas amalan yang sedikit, bukan berarti hamba mencukupkan diri dengan yang sedikit. Karena nikmat Allah pada diri seorang hamba sangat banyak dan tidak akan mampu dia hitung.
Banyaknya nikmat tersebut melazimkan syukur yang banyak.
Bentuk syukurnya hamba yaitu dengan melakukan sebanyak mungkin dan sebagus mungkin amal sholehnya.
Berpetualang rasa, terasa nikmat dan membahagiakan di awal. Akhirnya seringkali adalah patah, remuk, hancur. Menjejak rasa kesana kemari, sekedar agar memiliki teman dekat, agar semangat belajar, tak ubahnya seperti memasang sendiri bom waktu. Sewaktu-waktu akan meledak. Melukai keduanya, atau bahkan orang lain.
Bukan karena aku menafikkan cinta, tapi cinta terlalu suci untuk tampil melindungi kata faahisyah (perbuatan buruk). Cinta tidaklah seperti itu.
Engkau jatuh cinta, terjebak perasaan tanpa engkau memiliki rencana, namun selama engkau simpan dalam hatimu baik-baik, tidak engkau arahkan pada hal yang tidak Allah ridhoi, itulah cinta. Tak ada aib bagimu atas perasaanmu itu. Bahkan riuh doamu kepada-Nya adalah hal yang baik.
Hati-hati dengan hati..
Sekali kau buka pintu untuk perasaan yang mengarah kepada faahisyah, siap-siap engkau terdorong masuk ke dalamnya lalu terkunci dari luar. Hanya dengan Taufiq Allah engkau dapat terbebas darinya tanpa dihantui oleh perasaan-perasaan yang berasal dari tipu daya syaitan.