Author Archives: Musymis
Tadabbur : Makna Syukur
• Allah Asy-Syakur
Allah تعالى mensifati dirinya dengan Asy-Syakuur, yaitu Allah Maha Bersyukur atas segala perbuatan baik walaupun sedikit dan hanya seberat biji atom.
Allah berterimakasih kepada hambaNya dengan melipatgandakan pahalanya, menambah nikmatnya, mengampuni dosanya, bahkan memujinya ditengah-tengah para penduduk langit sehingga mereka pun memuji hamba Allah tersebut.
Karena Allah adalah asy-Syakuur maka makhluk Allah yang paling dicintai oleh diriNya adalah mereka yang memiliki sifat syukur.
Pandai berterimakasih baik kepada Rabbnya maupun kepada sesama makhluk. Sebaliknya, yang paling dibenci dan dimurkai adalah hamba-hambaNya yang kufur dan mengingkari nikmat-nikmatNya dan nikmat antar sesama makhluk.
__________________
Faedah dari terjemahan Kitab Fiqhul Asmail Husna : Syaikh Abdurrozzaq al-Badr hafidzahullah
• Makna syukur
Kata syukur berasal dari kata شكر yang dalam bahasa Arab artinya adalah “penuh” (dalam artian terus menerus) dengan menyebut orang yang memberi nikmat. Kata ini jauh lebih mendalam dari kata berterimakasih dan sinonimnya seperti mengapresiasi ataupun menghargai.
_________________
Faedah dari terjemahan Kitab Al-Mufrodat Fi Ghoribil Qur'an : Ar-Raghib Al-Ashfahani rahimahullah
• Manfaat syukur dan hubungannya dengan tafakkur
Pembahasan bersyukur bisa dikaitkan dengan banyak hal. Salah satunya menjadi obat dan penenang untuk menenangkan hati yang kesal, sedih dan semisalnya.
Dengan mengingat banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita, hati akan menjadi jauh lebih lapang.
Coba luangkan waktu sejenak untuk menyendiri dan merenung banyak nikmat Allah. Baik yang ada dalam tubuh kita dengan sistem kerja organ tubuh yang berjalan otomatis tanpa perlu menunggu komando dari kita. Maupun memperhatikan alam semesta seperti langit, bulan, dan yang lainnya.
Bahkan perkembangan teknologi dan penelitian Sains yang valid berdasarkan data bisa kita manfaatkan untuk tafakkur terhadap alam semesta yang Allah ciptakan.
Ibnul Qoyyim rahimahullah menyebutkan dalam al-Fawaid bahwa cara hamba dalam mengenal Allah yaitu dengan dua cara. Pertama dengan mengenal perbuatan Allah dari segala jenis ciptaanNya dan semua yang ada di alam semesta.
Kedua dengan mentadabburi ayat-ayatNya. Cara yang pertama terkait dengan apa yang terlihat (alam semesta), sedangkan cara yang kedua terkait dengan ayat yang terdengar (tertulis) dan dapat dipahami.
Pengaruh dari tafakkur ini sungguh tidak sepele. Mungkin dengan sekedar melihat cahaya matahari yang melewati perjalanan sejauh 150 juta KM, yang hanya butuh waktu 8 menit agar sampai ke Bumi, menjadikan kita memandang kebaikan orang lain sebagai sesuatu yang sangat besar yang harus disyukuri.
Apalagi jika itu adalah kebaikan yang besar, seperti kebaikan orang tua kepada anaknya, atau kebaikan pasangan, kebaikan guru ke murid, dll.
Mungkin kita berpikir apakah hubungannya bisa sampai ke arah sana?
Jawabannya dicoba saja. Hasil tafakkur itu membawa kebaikan untuk banyak sisi kehidupan. Tinggal bagaimana cara berpikir kita melihat semua hal ini dan mengambil pelajaran-pelajaran dari setiap apa yang ada.
Di antara hasil dari merenungi kata syukur adalah jiwa yang optimis. Karena optimis hanya akan tumbuh dari hati yang lapang dan bersyukur, bukan hati yang selalu dikendalikan oleh kesal, amarah, sedih dan kekhawatiran. Hati yang lapang bisa didapatkan dengan banyak mengingat nikmat Allah. Nikmat Allah bisa direnungi dengan memperhatikan ciptaan-ciptaanNya.
جعلنا الله وإياكم من الشاكرين
الله أعلم بالصواب
Short : WordPress
Prompt Today : Day 3
What’s a secret skill or ability you have or wish you had?
I wish I had photography memorize skill. I can’t imagine how wonderfull is.
Short : Adab Nasehat
Short : Sebab Akibat
Poem : Idza Syi’ta..
إِذاَ شِئْتَ أَن تُقلَى فَزُرْ مُتَتَابِعًا
Jika engkau ingin dibenci, maka berkunjunglah sesering mungkin
وَاِن شِئْتَ أَن تَزْدَادَ حُبًّا فَزُرْ غِبًّا
Dan jika engkau ingin tambah dicintai, maka berkunjunglah jarang-jarang
Faraa'idul Kharaa'id, hal. 262
Dikutip dari terjemahan Adabul Mau'idzoh karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd






